BOHUSAMI.ID, TOMOHON – Perhelatan pariwisata berskala internasional, Tomohon International Flower Festival (TIFF) tahun 2026, tinggal menghitung hari. Berbagai persiapan terus diintensifkan Pemerintah Kota (Pemkot) maupun panitia penyelenggara.
Ada banyak harapan yang dicanangkan menjadi target iven yang telah menjadi kalender pariwisata tetap, baik bagi Kota Tomohon maupun Kementerian Pariwisata ini, sehingga Wali Kota Caroll Senduk, Wakil Wali Kota Sendy Rumajar, Ketua Panitia TIFF 2026 Levita Supit serta seluruh stakeholder, all out mempersiapkannya.
Demikian halnya dengan Kapolres Tomohon, AKBP Novrial Alberti Kombo. TIFF 2026 menjadi ajang perdana dirinya mengawal sekaligus menjadi bagian sebagai ‘peserta’ turnamen parade bunga yang kini diminati banyak kalangan itu.
Seperti yang sudah menjadi tradisi penyelenggaraan TIFF, khususnya dalam beberapa tahun terakhir, Kapolres Tomohon akan tampil memimpin barisan paling depan parade saat iring-iringan Tournament of Flowers (ToF).

Dia akan mengenakan pakaian kebesaran Minahasa, dengan segala atributnya dalam karakter Toar ataupun Waraney. Pada momen ini, Sang pemimpin defile, akan berjalan didampingi istri sebagai Lumimuut atau juga Wulan.
“Saya sedang konsultasi dengan para tokoh adat, apakah (akan tampil) akan Toar atau Waraney,” papar AKBP Novrial Alberti Kombo saat ‘ngopi siang’ dengan jajaran Serikat Pers Republik Indonesia (SPRI) Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Kota Tomohon, di Cafe Baku Jaga, Kamis (30/7/2026).
Bagi Akpol 2007 ini, Sulawesi Utara bukanlah daerah asing baginya, meski ayahnya dari Luwu, Sulawesi Barat, dan ibu Toraja. “Saya lahir dan besar di Kota Bitung, masuk Akpol, juga dari Polda Sulut, tapi baru sekarang dipercayakan bertugas di sini,” paparnya sambil menambahkan, sang istri yang berasal dari Nusa Tenggara, masih punya darah Manado.
Maka, tidak menghengherankan jika dalam dialog yang dipandu Ketua DPC SPRI Tomohon, Jerry Uno, bersama Sekretaris Rommy Kaunang itu, Kapolres Novrial Alberti Kombo sangat fasih berbicara dalam bahasa sehari-hari masyarakat Manado.
Baku Jaga
Tentang lokasi ‘ngopi siang’ yang ditunjuk SPRI Tomohon sebagai tempat pertemuan, Kapolres Kombo merasa sangat terkesan dengan “trade mark” yang dipilih Cafe Baku Jaga.
Menurutnya, ‘Baku jaga’ adalah slogan yang dianut kepolisian dalam merangkul semua komponen masyarakat untuk saling menjaga keamanan dan ketertiban melalui konsep “Melayani, Melindungi dan Mengayomi” masrakat. “Rasio petugas polisi dengan jumlah warga yang harus dilayani kan sangat terbatas,” ujarnya memberi alasan.
Karena itu, Cafe Baku Jaga Tomohon yang dikelola Maykel “Manis” Karwur, wartawan yang juga anggota SPRI ini, menurutnya sangat sejalan dengan konsep tersebut.
“Torang mo Baku dapa ulang di sini neh, kita somo pangge PJU (pejabat utama) Polres. Torang diskusi, bacerita santai karena kita lia (lihat) banyak hal yang bisa torang beking for Tomohon, Sulawesi Utara maupun Indonesia,” tutup Kapolres Kombo.
Dia mengajak seluruh elemen di Kota Tomohon baku jaga lingkungan masing-masing, penyelenggaraan TIFF hingga bahaya kebakaran hutan dan lahan (karhutla). “Yang baroko (merokok), jangan buang puntung sembarangan. Torang baku jaga seperti nama kafe ini,” imbaunya sambil tersenyum.(dki)







