2024 Prabowo Kuasai Jateng hingga Papua, “Efek Jokowi” Berpengaruh Besar

Bagikan:

JAKARTA – Peneliti Indikator Politik Indonesia Bawono Kumoro menilai, sosok Presiden Joko Widodo berkontribusi besar terhadap perolehan suara pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) nomor urut 2, Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka. Figur Gibran yang merupakan putra sulung Jokowi, sehingga mudah diasosiasikan dengan Kepala Negara.

“Menurut saya, kontribusi terbesar dari melesatnya angka Prabowo-Gibran berdasarkan hasil quick count sementara ini adalah dari efek Joko Widodo,” kata Bawono kepada Kompas.com, Jumat (16/2/2024). Bawono menyebut, perolehan suara Prabowo-Gibran pada Pemilu Presiden 2024 cukup mengejutkan. Sebab, angkanya melebihi survei berbagai lembaga.

Dalam sejumlah survei yang digelar sebelum pemungutan suara pemilu, elektabilitas Prabowo-Gibran berada di kisaran 50-52 persen.

Namun, menurut hasil hitung cepat, pasangan Menteri Pertahanan dan Wali Kota Solo itu mendulang sekitar 58 persen suara. “Yang mengejutkan bukan kemenangan pasangan Prabowo-Gibran, tapi perolehan suara dari pasangan Prabowo-Gibran menurut hasil quick count sementara,” ujar Bawono. Ditelaah lebih jauh, pada pilpres kali ini Prabowo berhasil menguasai wilayah-wilayah yang pada Pilpres 2014 dan Pilpres 2019 lalu didominasi oleh Jokowi. Misalnya, Maluku, Papua, Nusa Tenggara Timur, Jawa Timur, termasuk “kandang banteng”, Jawa Tengah.

Ini membuktikan bahwa keberadaan Gibran dan narasi keberlanjutan pemerintahan Jokowi yang dibawa Prabowo-Gibran mampu mendatangkan suara besar ke pasangan nomor urut 2 tersebut. “Tidak bisa dimungkiri, ini salah satu kontributor terbesarnya adalah Jokowi,” kata Bawono. Meski perolehan suara Prabowo di pilpres besar, pada saat bersamaan, Gerindra tak lebih unggul dari PDI Perjuangan dan Partai Golkar di pemilu legislatif (pileg).

Menurut Bawono, ini karena para calon legislatif (caleg) Gerindra tak maksimal dalam kampanye pileg. Para caleg Gerindra dinilai terlena akan elektabilitas Prabowo yang menurut berbagai lembaga survei terbilang besar. “Caleg-caleg dari Gerindra merasa di atas angin dengan elektabilitas dari Prabowo berdasarkan survei selama beberapa bulan ini, sehingga terlena, kurang maksimal bekerja di daerah pemilihan mereka masing-masing,” kata Bawono. Bawono menambahkan, situasi ini membuktikan bahwa kekuatan kader dan basis massa Partai Gerindra lebih banyak dikerahkan untuk memenangkan Prabowo-Gibran dalam pilpres ketimbang dalam pileg. “Apalagi mereka memiliki target yang tinggi untuk menang dalam satu putaran saja,” tutur dia.

S.B : Artikel ini telah tayang di Kompas.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *