Pasang Iklan? Contac Person WA: 081341511701
Opini  

Jelang 17 Agustus 2026 Nostalgia Lama Merasuk Jiwaku Hidup Kembali

HUT RI Ke-81 — 17 Agustus 2026 kali ini mengangkat tema: “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”.

Tema ini merujuk pada semangat kolektif seluruh elemen bangsa untuk mewujudkan kedaulatan yang sejati, keadilan sosial yang nyata, serta kemakmuran yang merata bagi seluruh rakyat Indonesia — namun di tengah realitas ketidakadilan hukum yang tebang pilih, persis seperti peribahasa: “Ada uang, Abang disayangi; tak ada uang, Abang melayang.”

Tema ini menjadi momentum bagi para penegak hukum — polisi, jaksa, hakim — untuk berbenah diri dan melanjutkan perjuangan serta pembangunan, sebagaimana jiwa Sila Kelima Pancasila.

Tak terbantahkan: di era reformasi yang telah kebablasan, korupsi, suap, dan penyalahgunaan wewenang tumbuh subur bagaikan jamur liar yang mekar di atas tanah lembap, atau kayu lapuk di musim hujan.

Di era Orde Lama, di bawah kepemimpinan Presiden Soekarno Indonesia dilanda krisis sandang dan pangan. Pada tanggal 12 Juli 1964, Presiden Soekarno mencanangkan revolusi pangan: “Beras Jagung”, Makanan Sehat bagi rakyat Indonesia.”

Masyarakat harus antre panjang hanya untuk mendapatkan beras pecah yang disebut “bulgur”, dan anak-anak diajak mengenal serta memakan “kue berdikari” — kue yang terbuat buat dari ubi atau pisang yang dicampur sari jagung, karena bahan-bahan lain sulit didapat.

Di masa itu, tepung terigu dan mentega, semuanya menjadi barang langka dan mahal. Bahkan kain bekas karung tepung terigu dijahit menjadi pakaian dalam laki-laki maupun perempuan, yang dikenal dengan sebutan “underwear” atau “pakaian dalam “cap kereta”, hal itu disebabkan karena nama dari merek tepung terigu bernama Kereta.

Akibat sulit mentega, di tanah Minahasa, mentega pun kerap digantikan dengan ‘lipid” atau “Lard”, yang diambil dari lemak hewan untuk dijadikan bahan pengganti mentega saat membuat kue.

Indonesia pernah tiga kali melakukan kebijakan pemotongan nilai uang atau sanering, semuanya terjadi di masa Orde Lama:

  • Sanering pertama Tahun1950 — kedua Tahun 1959, terakhir 1965 — uang Rp 1.000 menjadi Rp 1. Batas kepemilikan uang tunai dibatasi. Inflasi mencapai 594%, lalu melonjak hingga 635,5% di tahun 1966. Ekonomi hancur, harga melambung tak terkendali.

PERISTIWA YANG MENGUBAH SEGALANYA

Pada 30 September 1965, meletus Peristiwa Pengkhianatan G-30-S-PKI — gerakan yang berusaha mengganti ideologi Pancasila dengan paham komunis.

Di masa itu, celah-celah hasutan dan rayuan politik menggema, membuat rakyat bingung: siapa kawan, siapa lawan ?

Kemudian melalui Sidang Istimewa MPRS tanggal 12 Maret 1967, Soeharto ditunjuk sebagai Pejabat Presiden. Ia memerintah lebih dari tiga dasawarsa, melalui enam kali pemilihan umum, hingga mengundurkan diri pada 21 Mei 1998. Beliau wafat pada 27 Januari 2008 di usia 87 tahun.

Di bawah kepemimpinan Soeharto — masa Orde Baru — yang dijuluki dunia internasional, khususnya Dunia Barat, dengan sebutan “The Smiling General” atau “Sang Jenderal yang Tersenyum”.

Orde Baru dikenal dengan program Repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun) yang berlangsung dalam enam tahap dari tahun 1969 hingga 1998, berlandaskan pada Trilogi Pembangunan. Menurut “Yusril Ihza Mahendra”, program ini hampir seluruhnya berhasil dilaksanakan.

Pembangunan di masa Orde Baru berpedoman pada Trilogi Pembangunan, yang mencakup tiga hal utama: stabilitas nasional yang dinamis, pertumbuhan ekonomi yang tinggi, serta pemerataan pembangunan. Terlebih lagi: pembangunan mental dan spiritual bangsa.

KENANGAN YANG TAK LEKANG OLEH PANAS, TAK LAPUK OLEH HUJAN

Kami diajarkan mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP) — pelajaran wajib yang membentuk dasar ideologi dan moral bangsa. Kami juga belajar sejarah, budaya, dan budi pekerti. Di sekolah, kami digilir satu per satu untuk maju ke depan kelas dan menghafal lima Sila Pancasila.

Kini aku pahami: itulah sebabnya Pancasila terpatri dalam kalbu. Bahwa Pancasila adalah falsafah dan ideologi negara, pemersatu seluruh bangsa Indonesia. Pemahaman yang ditanam sejak kecil tumbuh, berakar, dan menjadi benteng bagi generasi kami. Kami tidak mudah terombang-ambing oleh paham asing yang mencoba mencuci otak. Bangsa ini terhindar dari ekstremisme, terorisme, dan premanisme. Stabilitas nasional terjaga kuat. Indonesia dijuluki “Macan dari Asia”, dari negeri yang bermandikan susu dan madu.

Perayaan 17 Agustus di masa itu diisi dengan lomba lari, estafet, panjat pinang, tarik tambang — melatih kerja sama dan kebersamaan. Ada paduan suara, gerak jalan di siang hari, dan pawai obor yang indah di malam hari.

MASA KINI DAN KERINDUAN YANG TAK HILANG

Bulan Agustus 2026 justru diisi dengan unjuk rasa, ujaran kebencian “hate speech”, saling menjatuhkan. Di mana-mana terlihat mafia tambang, mafia hukum, mafia tanah — dan masih banyak lagi bentuk ketidakadilan.

Di sisi lain, aku memandang dengan harapan langkah Presiden Prabowo Subianto yang dengan gigih memangkas pengeluaran perjalanan dinas DPR dan instansi pemerintah demi efisiensi. Indonesia mulai dihormati kembali di mata dunia. Kepentingan asing yang merugikan negara mulai dipangkas dan diusir.

Namun sayang sekali: niat baik pemberian gizi bagi anak-anak melalui program Makan Bergizi Gratis justru dikorupsi. Koperasi Merah Putih sebagian besar belum berjalan sebagaimana mestinya.

Tanpa sadar, semua kenangan di bulan-bulan Agustus itu, perlahan ‘bermetamorfosis’ dan menyatu dalam ingatan menjadi satu – kesatuan yang utuh: “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur.”

Dalam lamunan muncul pertanyaan: Apakah para pemangku kepentingan di negeri ini masih memiliki nurani keadilan? Apakah semangat yang tertulis dalam tema HUT RI 2026 benar-benar dihayati dan dijalankan ?

Atau justru — apakah Indonesia kembali membutuhkan pemimpin seperti di masa Orde Baru? Yang menjaga stabilitas politik dan keamanan dengan tegas, hingga Indonesia kembali dijuluki “Macan dari Asia”?

Belakangan ini muncul baliho dengan gambar Presiden kedua RI dan tulisan: “Piye kabare” ?, “Isih penak jamanku, to..?” — Bagaimana kabarnya? Masih enak zaman saya, bukan..?

Tanpa sadar aku mulai bersenandung lagu: ♪ ♪ ♪
Nostalgia lama merasuk jiwaku, seakan hidup kembali – _Namun aku tak bisa menipu diriku sendiri – Aku masih punya rasa rindu pada zaman itu.” ♪ ♪ ♪

Selamat HUT ke-81, Tanah Airku Tercinta — God less Indonesia.(*)

Penulis Efraim Lengkong, 71 Tahun, akrab disapa Om Ever. Meski tangan tuanya kadang bergetar saat menekan / memegang Notebook, tapi semangatnya tak pernah pudar. Tulisan-tulisannya terus mengalir, menjadi suara kebenaran demi membangun bangsa.

Share:   

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *