Hadang China, Vietnam-Filipina Kerja Sama Maritim

Bagikan:

HANOI — Filipina dan Vietnam menandatangani kesepakatan untuk mencegah insiden di Laut China Selatan dan menggalang kerja sama antarpenjaga pantai kedua negara. Kerja sama terjalin di tengah upaya menggalang aliansi menghadapi China di perairan yang disengketakan tersebut.

Kesepakatan diteken saat Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr mengunjungi Hanoi, Selasa (30/1/2024), dan bertemu Presiden Vietnam Vo Van Truong. Selain menyepakati kerja sama, keduanya membahas mekanisme berbagi informasi dan pertukaran pelatihan militer.

Baik Filipina maupun Vietnam sama-sama memiliki klaim yang tumpang tindih dengan China di Laut China Selatan. Insiden antara kapal-kapal Filipina dan China kerap terjadi, bahkan dikhawatirkan memicu konflik lebih luas di kawasan karena melibatkan Amerika Serikat, sekutu Filipina.

Meskipun para pejabat China dan Filipina sepakat meredakan ketegangan di perairan tersebut, Marcos tetap mengemukakan kekhawatiran soal konflik yang bisa memanas. ”Terus terjadi tindakan sepihak dan ilegal yang melanggar kedaulatan kami, hak berdaulat dan yurisdiksi kami, serta memanasi ketegangan di Laut China Selatan,” kata Marcos saat bertemu Perdana Menteri Vietnam Pham Min Chinh, berdasarkan pidato yang dirilis Kantor Kepresidenan di Manila.

Marcos mencuatkan lagi insiden penembakan meriam air oleh Penjaga Pantai China yang merusak kapal Filipina pada 10 Desember 2023 di dekat Karang Second Thomas. Ia juga mengungkapkan insiden serupa di wilayah lain yang disengketakan, yakni Karang Scarborough.

”Kami tegas dalam mempertahankan kedaulatan, hak berdaulat, dan yurisdiksi kami terhadap provokasi apa pun. Namun, pada saat yang sama, kami juga berupaya menangani isu ini dengan China melalui dialog damai dan konsultasi sebagai dua negara berdaulat yang setara,” papar Marcos.

Tidak dijelaskan bagaimana PM Pham bereaksi terhadap pidato Marcos. Para pejabat China juga tidak berkomentar, baik tentang pidato Marcos maupun kerja sama Filipina-Vietnam. Tidak ada pula detail spesifik tentang kesepakatan yang ditandatangani kedua negara serta bagaimana mengelola insiden-insiden di Laut China Selatan.

Selain Filipina dan Vietnam, sejumlah negara juga memiliki klaim tumpang tindih dengan China di Laut China Selatan, yakni Malaysia, Brunei Darussalam, dan Taiwan. Persoalan pencurian ikan, pengusiran, dan penangkapan nelayan sering terjadi di kawasan tersebut yang dilakukan masing–masing pihak.

Sebagai negara industri besar, China hanya memiliki Laut China Selatan sebagai akses ke laut terbuka untuk menjaga pasokan impor migas dan ekspor produk China. Jalur laut di pesisir timur China ditutup pangkalan–pangkalan militer Amerika Serikat di Jepang dan Korea Selatan.

Beras

Selain kerja sama maritim, Filipina dan Vietnam sepakat meningkatkan perdagangan kedua negara. Mereka menyepakati perjanjian perdagangan beras selama lima tahun. Vietnam sepakat memasok 2 metrik ton beras ke Filipina tiap tahun dengan harga terjangkau di tengah dampak perubahan iklim, pandemi, dan berbagai faktor eksternal.

Vietnam memasok 85 persen kebutuhan beras Filipina. Filipina dan Vietnam sepakat untuk menjamin ketersediaan pasokan. Harga beras sempat melonjak di Filipina semasa pandemi dan dampak iklim ekstrem.

Filipina dalam sejarahnya pernah menjadi pusat penelitian beras dunia yang berpusat di kota Los Banos. Kini lumbung beras Asia Tenggara ada di Thailand, Kamboja, dan Vietnam.

Dalam kunjungannya, Marcos juga bertemu dengan konglomerat Vietnam, Pham Nhat Vuong. Ia adalah pemimpin berbagai perusahaan dan pemilik pabrik mobil listrik Vingroup yang mempunyai merk Vinfast. Seusai pertemuan, Vinfast menyatakan hendak membuka bisnis mobil listrik di Filipina mulai akhir tahun 2024.

Rencana Vinfast di Filipina bagian dari ekspansi ke 50 negara. Vinfast sudah mengekspor ke Amerika Serikat dan membangun pabrik senilai 4 miliar dollar AS di Negara Bagian North Carolina, Amerika Serikat. Vinfast juga merencanakan membuka pabrik di India dan Indonesia.

Kelompok Usaha Vin Group dalam keterangan kepada media mengatakan, Presiden Marcos menjanjikan Filipina dapat membantu produksi baterai mobil listrik karena Filipina memiliki cadangan melimpah bahan baku nikel, kobalt, dan tembaga.

Sumber Berita: KOMPAS.COM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *